Kepada
ayah yang berjuang untuk keluarga.
Terimakasih
Ayah, untuk tidak mengeluh. Terimakasih Ayah, atas kesungguhanmu selama ini.
Terimakasih,
untuk kebanggaanmu kepadaku.
Kepada
ayah yang tulus mencintai kami.
Terimakasih,
atas waktu yang berharga ini.
Ayah,
kulihat kerutan mulai bertambah diwajahmu.
Maaf
Ayah, hingga kerutnya wajahmu, aku masih merengek uang jajan padamu.
Maaf
ayah, untuk fotokopi selembar saja aku masih meminta.
Maaf
ayah, karena sibuk menghabiskan uangmu bersama temanku.
Kulihat
sore itu kau melamun ayah, maaf ayah jika aku terlalu banyak bertingkah.
Maaf
ayah karena labilku sungguh menyusahkanmu.
Maaf
Ayah, karena aku terlalu memikirkan diriku dari pada kesehatanmu.
Ayah
maaf, karena terkadang mengabaikan pesan singkatmu di handphoneku. Karena katanya
aku sibuk yah, banyak kuliah dan praktikum. Ah, praktikum saja Ayah, aku sudah
mengeluh.
Maaf
Ayah, kadang hati ini merasa paling benar dibanding dirimu.
Maaf
Ayah, karena berpura tak mendengarkanmu.
Maaf
Ayah, karena omelanku saat jajan yang tak cukup.
Ayah,
maaf. Karena aku terkadang sedikit melupakanmu dibanding ibuku.
Karena
aku tidak bercerita hari-hariku kepadamu.
Maaf
Ayah terkadang aku menolak atas permintaan bantuanmu padaku.
Maaf
ayah terkadang penolakan itu terlalu kasar. Tapi kau hanya diam saja, Ayah.
Ayah,
akhir-akhir ini kulihat kau sering sakit. Maaf ayah, untuk kesadaranku yang
terlambat.
Maaf
Ayah, jika aku lebih memilih bergurau dengan media sosial dari pada bergurau
denganmu sembari memijitimu.
Maaf
ayah, jika kebanggaanmu padaku ku kecewakan.
Maaf
Ayah, jika aku tak sebaik anak teman-temanmu.
Maaf
ayah, sungguh kesalahanku terlalu banyak.
Maafkan
aku ayah, maafkan aku…
Aku
mencintaimu Ayah.
Dari
Anakmu,
Si
Bungsu
[Wed, Dec 24th 2014. 22:52]