Rabu, 24 Desember 2014

teruntuk Ayah



Kepada ayah yang berjuang untuk keluarga.
Terimakasih Ayah, untuk tidak mengeluh. Terimakasih Ayah, atas kesungguhanmu selama ini.
Terimakasih, untuk kebanggaanmu kepadaku.
Kepada ayah yang tulus mencintai kami.
Terimakasih, atas waktu yang berharga ini.
Ayah, kulihat kerutan mulai bertambah diwajahmu.
Maaf Ayah, hingga kerutnya wajahmu, aku masih merengek uang jajan padamu.
Maaf ayah, untuk fotokopi selembar saja aku masih meminta.
Maaf ayah, karena sibuk menghabiskan uangmu bersama temanku.
Kulihat sore itu kau melamun ayah, maaf ayah jika aku terlalu banyak bertingkah.
Maaf ayah karena labilku sungguh menyusahkanmu.
Maaf Ayah, karena aku terlalu memikirkan diriku dari pada kesehatanmu.
Ayah maaf, karena terkadang mengabaikan pesan singkatmu di handphoneku. Karena katanya aku sibuk yah, banyak kuliah dan praktikum. Ah, praktikum saja Ayah, aku sudah mengeluh.
Maaf Ayah, kadang hati ini merasa paling benar dibanding dirimu.
Maaf Ayah, karena berpura tak mendengarkanmu.
Maaf Ayah, karena omelanku saat jajan yang tak cukup.
Ayah, maaf. Karena aku terkadang sedikit melupakanmu dibanding ibuku.
Karena aku tidak bercerita hari-hariku kepadamu.
Maaf Ayah terkadang aku menolak atas permintaan bantuanmu padaku.
Maaf ayah terkadang penolakan itu terlalu kasar. Tapi kau hanya diam saja, Ayah.
Ayah, akhir-akhir ini kulihat kau sering sakit. Maaf ayah, untuk kesadaranku yang terlambat.
Maaf Ayah, jika aku lebih memilih bergurau dengan media sosial dari pada bergurau denganmu sembari memijitimu.
Maaf ayah, jika kebanggaanmu padaku ku kecewakan.
Maaf Ayah, jika aku tak sebaik anak teman-temanmu.
Maaf ayah, sungguh kesalahanku terlalu banyak.
Maafkan aku ayah, maafkan aku…
Aku mencintaimu Ayah.

Dari Anakmu,

Si Bungsu

[Wed, Dec 24th 2014. 22:52]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Design By:
SkinCorner